LITERASI, Aku Harus Memulai !
Literasi,
sebuah kata yang sering aku dengar . Sejak himbauan Bapak Menteri Anis Baswedan
dalam setiap mengawali kegiatan belajar mengajar harus memberikan
waktu 15 menit untuk literasi. Aku mencoba memahami apa itu
literasi . Aku yang sebagai pengajar dan pendidik berusaha mempraktekkan
kegiatan literasi ini dalam kegiatan pembelajaran setiap hari. Sebenarnya, aku
sangat menyukai literasi. Aku suka membaca buku dan bercerita kepada
anak-anak. Bahkan cerita - cerita itu kadang muncul dari imajinasiku
sendiri. Aku juga memberikan tugas membaca cerita, mengarang fiksi dan
nonfiksi , bercerita, membuat puisi . Terbersit keinginan untuk
menjadikan karya – karya mereka menjadi sebuah kumpulan buku, tetapi entahlah,
sampai sekarang belum terwujud juga.
Aku pernah
mengikuti diklat literasi sebanyak 3 kali. Pelatihan dan pelatihan itu
hanya menambah wawasanku tentang pentingnya literasi . tetapi tak satupun dari
kegiatan itu menggugah keinginanku untuk menuliskan kalimat – kalimat dalam
sebuah karya. Aku hanya pandai memberikan motivasi untuk anak – anak
didikku . Menyampaikannya secara lisan tanpa tulisan.
Hari itu
kepala sekolah memberikan informasi tentang rangkaian seminar yang diadakan
oleh PC Pergunu . Begitu membaca pilihan aku langsung tertarik pada
literasi. Sebenarnya hal ini menunjukkan bahwa minatku pada literasi itu sangat
tinggi.
Sabtu, 7 November 2020 bisa dibilang sebagai hari baik bagiku untuk memulai . Aku
mengikuti Seminar Literasi yang ke 4 kali . Materi yang disampaikan sama
seperti yang pernah aku ikuti , bahkan mungkin lebih ringan. Tetapi
motivasi yang disampaikan Dr. Ngainun Naim , semangat yang terus dipupuk oleh
bapak Nur Hadi, semangat sahabat – sahabatku yang terus menghasilkan karya
adalah bagaikan sebuah cahaya terang dan tajam yang benar – benar mengejutkan
dan menggugah niatku untuk menggerakkan jari – jari
kecil indah ciptaan Nya . Rasanya aku tak bersyukur jika diberikan kemampuan
dan tidak menggunakan sebaik – baiknya.
Aku masih
ingat beberapa hal yang Dr. Ngainun Naim sampaikan waktu itu “Menulis
itu mudah . Kalau mau menulis , menulis saja. Tulis apapun yang ada difikiran
kita sebanyak – banyaknya. Berikutnya bisa ditata sistematisnya .
Percaya diri dengan apa yang kita tuliskan . Jangan pernah berfikir tulisan
kita tidak layak untuk dikonsumsi orang lain.Jangan menunda untuk
memulai. Biasakan setiap moment apapun bisa kita tulis .
Bahkan sebuah benda pun bisa kita buat sebuah tulisan . Banyak membaca
artikel – artikel dan buku karya orang lain. Harus ada
niat karena jikalaupun punya kemampuan dan kesempatan , kalau tidak ada niat
pasti tidak akan jalan.”
Aku juga
mengingat sebuah kalimat sebelum acara berakhir , sebuah kalimat singkat tetapi
begitu hebat menusuk relung jiwa dan fikiranku “ Teruslah
menulis, paling tidak orang tahu kamu masih hidup”.( Kuntowijoyo)
Aku seakan menyadari bahwa aku memang harus memulai.
mengapa sebuah hal yang begitu mudah selama ini aku anggap sangat sulit. Aku
yakin banyak yang juga seperti aku. Tidak ada kata terlambat. Ayo sahabat ,
jangan tunda besok atau lusa . Mulailah saat ini juga . Jangan hanya menunggu
karya orang lain. Kitapun pasti bisa berkarya.
Close statement yang sangat menyentuh adalah sebuah
kata mutiara dari Imam Al ghozali “ Kalau kamu bukan anak raja,
kamu bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.”
Terimakasih kepada sahabat –
sahabat Pergunu yang telah memberi kesempatan kepadaku untuk mengikuti seminar
ini. Apresisasi setinggi – tingginya untuk para beliau yang luar
biasa , Bapak muslim ( Ketua Pergunu), Bapak H. Jaelani, Dr. Ngainun Naim,
Bapak Nur Hadi dan segenap TIM Literasi Pergunu. Terimakasih atas motivasinya ,
inspirasinya dan bantuannya dalam pengembangan literagi guru – guru NU. Terimakasih
sahabat – sahabatku yang juga banyak memberi inspirasi padaku.
Bangkitlah
literasi bersama guru – guru Nahdlatul Ulama.
Penulis :
Nur Mazidah, guru SDI Alhidayah Samir

Siip bu... edit nggih.. Nurhuda.. Kang leres Nurhadi.
ReplyDeletenggeh pak...ngapunten sanget... 🙏🙏🙏
ReplyDelete